Selasa, 16 Juni 2009
Kamis, 11 Juni 2009
4 lilin
4 Lilin
Ada 4 lilin yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka
Yang pertama berkata: "Aku adalah Damai." "Namun manusia tak mampu
menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!"
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata: "Aku adalah Iman." "Sayang aku tak berguna lagi."
"Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap
menyala."
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: "Aku adalah Cinta." "Tak mampu
lagi aku untuk tetap menyala." "Manusia tidak lagi memandang dan
mengganggapku berguna."
"Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya,
membenci keluarganya."
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga...
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin
telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: "Ekh apa yang terjadi??
Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!"
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut,
Janganlah menangis,
selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan
ketiga Lilin lainnya:
"Akulah HARAPAN."
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan
kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN
yang ada dalam hati kita....dan masing-masing kita semoga dapat menjadi
alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu
menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!
Ada 4 lilin yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka
Yang pertama berkata: "Aku adalah Damai." "Namun manusia tak mampu
menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!"
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata: "Aku adalah Iman." "Sayang aku tak berguna lagi."
"Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap
menyala."
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: "Aku adalah Cinta." "Tak mampu
lagi aku untuk tetap menyala." "Manusia tidak lagi memandang dan
mengganggapku berguna."
"Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya,
membenci keluarganya."
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga...
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin
telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: "Ekh apa yang terjadi??
Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!"
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut,
Janganlah menangis,
selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan
ketiga Lilin lainnya:
"Akulah HARAPAN."
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan
kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN
yang ada dalam hati kita....dan masing-masing kita semoga dapat menjadi
alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu
menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!
anak kerang
Anak Kerang
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh
pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah
dan
lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan
tidak
memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu
tak
bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu
sebagai takdir alam." "Kuatkan hatimu.
Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu
dan
nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya
itu
yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa
sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia
meragukan
nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.
Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam
dagingnya. Makin lama makin halus.
Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin
besar.
Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap,
dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi
sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun,
lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang
sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa
penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang
biasa"
menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa
kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa"
menjadi "orang
luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental
tersebut,
karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua
pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki, menjadi `kerang biasa'
yang
disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'.
Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama,
sehingga
tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari
orang yang `biasa-biasa saja'.
So..sahabat mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan,
kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang disekitar
kamu..cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong
tersebut, dan sambil katakan didalam hatimu.. "Airmataku
diperhitungkan
Tuhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi
mutiara-mutiara..."
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh
pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah
dan
lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan
tidak
memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu
tak
bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu
sebagai takdir alam." "Kuatkan hatimu.
Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu
dan
nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya
itu
yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa
sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia
meragukan
nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.
Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam
dagingnya. Makin lama makin halus.
Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin
besar.
Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap,
dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi
sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun,
lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang
sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa
penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang
biasa"
menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa
kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa"
menjadi "orang
luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental
tersebut,
karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua
pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki, menjadi `kerang biasa'
yang
disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'.
Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama,
sehingga
tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari
orang yang `biasa-biasa saja'.
So..sahabat mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan,
kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang disekitar
kamu..cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong
tersebut, dan sambil katakan didalam hatimu.. "Airmataku
diperhitungkan
Tuhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi
mutiara-mutiara..."
Selasa, 26 Mei 2009
Rabu, 13 Mei 2009
Langganan:
Postingan (Atom)


